PICTURE

PICTURE
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan









Donasi Juga bisa Langsung di Transfer ke Rekening Mandiri Syariah No. Rekening FMDKI Indonesia a/n NUR RAHMAH KARAENG BAJEN. 

Bank Syariah Mandiri ( Kode Bank 451) 7074498765  Atau melalui  Bank BRI Syariah No.Rekening (Kode Bank 422) 1012444512. Jika telah mengirim donasi ANDA, silahkan konfirmasi ke no. 085255668815 dengan format Nama ANDA #Jumlah Donasi. Contoh : Qonita#50000. Syukron Jazakumullahu khair atas Donasi Anda. Donasi Anda Akan digunakan Untuk DAKWAH NUSANTARA InsyaAllah,










Pemuda Dan Semangat Perubahan

Hampir 1 abad silam, tepatnya tanggal 28 Oktober 1928 Sumpah Pemuda menggelora membangkitkan semangat persatuan. Sebuah pergerakan  yang lahir karena adanya persamaan nasib dan perjuangan di semua kalangan saat itu. Merasakan pahitnya penjajahan, penyiksaan dan penindasan jiwa dan raga. Ketika Soekarno presiden pertama di kala itu mengatakan dengan lantang, "beri aku sepuluh pemuda, maka aku akan guncangkan dunia". Sama halnya ketika era reformasi bermuara pada runtuhnya rezim soeharto, dan itu karena peran pemuda. Maka pantaslah kemerdekaan serta merta terwujud  juga karena gelora pemuda Indonesia.

Menyusuri sejarah kegemilangan pemuda Indonesia tak kalah dengan mempelajari  kemilau tinta emas perjuangan pemuda Islam. Di dalam Al Qur’an telah digambarkan, bagaimana sosok pemuda islam ideal, dialah seorang yang tidak berputus-asa, pantang mundur sebelum cita-citanya tercapai. Seperti digambarkan pada pribadi pemuda (Nabi) Musa. “Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada pembantunya, “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua laut; atau aku akan ber¬jalan (terus sampai) bertahun-tahun” (QS. Al-Kahfi,18 : 60). Juga pemuda yang berani merombak dan bertindak revolusioner terhadap tatanan sistem yang rusak. Seperti kisah pemuda (Nabi) Ibrahim. “Mereka berkata: ‘Siapakah yang melakukan (perbuatan) ini terhadap tuhan-tuhan kami? sungguh dia termasuk orang yang zalim, Mereka (yang lain) berkata: ‘Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela (berhala-berhala) ini, namanya Ibrahim.” (QS.Al¬-Anbiya, 21:59-60). Secara fitrah inilah pemuda, manusia berkarakter khas yang berbeda dengan golongan lainnya.

Merefleksikan Nikmat Sehat dan WaktuNya



  

Ada dua pesan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam yang kadang kita lalaikan,sebagaimana hadistnya;
Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya: kesehatan dan waktu luang”. 
(HR. Bukhari, no: 5933)

Hakikat Ramadhan Mubarak

Secara bahasa, Ramadhan berasal dari kata ramdha, yarmadhu, yang berarti 'panas yang terik' atau 'panas yang membakar'. Secara maknawiyah, kita bisa menghayati Ramadhan sebagai bulan yang dapat membakar dan melebur segala dosa orang-orang yang berpuasa.

    Berkaitan dengan Ramadhan ada istilah "marhaban" yang berasal dari kata rahabu, yarhabu yang berarti luas atau lapang. Marhaban menggambarkan suasana penerimaan tamu dengan sambutan hangat, lapang dada dan penuh kegembiraan. Maka kalimat Marhaban ya Ramadhan (selamat datang Ramadhan), mengandung arti bahwa kita menyambut Ramadhan dengan penuh suka cita, gembira dan penuh kehangatan.

Mari Menata Ulang Pola Kehidupan Kita!

BERAPAKA usia Anda hari ini? Rasulullah pernah mengatakan, rata-rata umur ummat-nya hanya seputar 60-70 tahun saja.

أَعْماَرُ أُمَّتِي بَيْنَ سِتِّيْنَ وَ سَبْعِيْنَ وَأَقَلُّهُمْ مَنَ يُجاَوِزُ عَلَى ذَلِكَ
“Umur ummatku antara 60-70 tahun. Sangat sedikit di antara mereka yang umurnya melampaui kisaran itu.” (HR. At Tirmidzi 3550, Ibnu Hibban 7/246, Ibnu Majah 4236).

Nah, sekarang, marilah kita hitung dengan matematika sederhana saja. Bisa jadi, kita diberi Allah usia sampai 70 tahun. Tetapi bisa saja tidak. Marilah kita pilih di tengah, anggap saja, kita diberita kemudahan untuk hidup pada usia 50 tahun.

DAKWAH DENGAN HIKMAH

“ Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan Hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabb-mu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl:125)
Di sudut pasar kota Madinah ada seorang pengemis buta yang setiap hari selalu berkata kepada orang yang mendekatinya,” Wahai Saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya”.
Meskipun demikian, setiap pagi Rasulullah Muhammad Shalallahu’alahi wa Sallam selalu mendatanginya dengan membawakan makanan untuknya, dan tanpa berucap sepatah katapun Rasulullah menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu. Pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya adalah Rasulullah dan tetap saja dia mencaci maki beliau dihadapannya.
Rasulullah Shalallahu’alahi wa Sallam melakukan hal tersebut setiap hari sampai beliau wafat. Setelah wafatnya Rasulullah tidak ada lagi orang yang membawakan makanan dan menyuapinya disetiap pagi kepada pengemis itu.
Hingga suatu hari, sahabat terdekat Rasulullah yaitu Abu Bakar Radhiallahu’anhu berkunjung kerumah anaknya Aisyah Radhiallahu’anha yang juga merupakan istri Rasulullah dan bertanya,” Anakku, adakah kebiasaan Rasulullah yang belum aku kerjakan?”. Aisyah menjawab,” Wahai ayah, engkau adalah seoarang ahli sunnah dan hampir tidak ada kebiasaan Rasulullah yang belum ayah lakukan kecuali satu saja”. “Apa itu?”,Tanya Abu Bakar.” Setiap pagi Rasulullah berkunjung kepasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis buta yang ada disana”, Kata Aisyah.
Keesokan harinya Abu Bakar Radhiallahu’anhu pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Abu bakar mendatangi pengemis itu lalu memberikan itu kepadanya. Ketika Abu Bakar mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil menghardik,” Siapa kamu?”. Abu Bakar menjawab,”Aku orang yang biasa.” “ Bukan! Kamu bukan orang yang biasa mendatangiku”, Bantah si pengemis buta itu. “ Apabila ia datang tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut setelah itu ia berikan kepadaku”, pengemis itu melanjutkan perkataanya.
 Abu Bakar Radhiallahu’anhu tidak dapat dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis tadi,” Aku memang bukan orang yang biasa datang kepadamu. Aku adalah salah seorang sahabatnya. Orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah Shalallahu’alahi wa Sallam.”
Seketika itu juga sang pengemis itu pun menangis mendengar penjelasan Abu Bakar dan berkata,” Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memakinya, memfitnahnya dan ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia.”
Pengemis itupun akhirnya bersyahadat di hadapan Abu Bakar Radhiallahu’anhu dan sejak saat itu pula dia menjadi muslim.
Itu adalah cerita sang Teladan kita Rasulullah Shalallahu’alahi wa Sallam orang terbaik di muka bumi ini. Bagaimana Anda? Apa yang sudah Kita lakukan? ^_^ (An Naba Online)

“UNTUK APA KITA HIDUP?”; SEBUAH TANYA YANG LALAI UNTUK SELALU KITA JAWAB

Sahabatku di jalan Allah…
Bukalah lembar-lembar sejarah peradaban kita yang penuh cahaya. Di sana ada banyak hikmah yang mengagumkan. Tapi yang terpenting –setidaknya menurut hamba Allah yang lemah ini- adalah kecerdasan mereka menjawab “untuk apa kita hidup?” Perjalanan kita sudah sejauh ini. Mungkin jarak antara kita dengan alam barzakh tidak lagi sejauh jarak yang telah kita tempuh di hari-hari yang lalu. Hm, sudah sejauh ini. Berhentilah sejenak –meski harusnya tidak cukup hanya sejenak-. Tanyakanlah pertanyaan ini pada hatimu saat engkau sendiri, “Untuk apa kita hidup?”

KARENA SETIAP ORANG MENYIMPAN SETITIK KEBAIKAN DALAM JIWANYA

Muhammad Ihsan Zainuddin

Tidak semua manusia dipilih oleh Allah untuk kembali ke jalan yang lurus dan mengenal manhaj yang benar. Maka saat Allah menuntun hidup kita untuk berjalan, berbuat, bekerja, berpikir, dan berbicara sesuai dengan manhaj salaf yang shalih; itu berarti ada nikmat yang tak terkira besarnya yang harus kita syukuri. Yah, karena –sadar atau tidak- sebenarnya kita telah menjadi pilihan-pilihan Allah di bumi. Di saat banyak saudara-saudari muslim kita yang sadar untuk memperjuangkan Islam dengan manhaj apa saja, kita disadarkan oleh Allah bahwa “Generasi akhir ummat ini tidak akan menjadi generasi yang shaleh dan jaya kecuali dengan jalan yang ditempuh oleh generasi awalnya” (La yashluhu akhiru hadzihil ummah illa bima shaluha bihi awwaluha).
Dampaknya, kita merasakan keizzahan yang luar biasa dahsyatnya dalam diri kita. Kita bangga berpenampilan sebagai salah seorang ikhwan. Kita merasa mulia saat mewujud sebagai salah satu bagian dari komunitas akhawat. Salahkah? Sampai di sini mungkin tidak ada masalah. Hanya saja seringkali keizzahan itu melanggar batas-batas yang semestinya. Keizzahan itu seringkali menyeret kita menjadi merasa shaleh sendiri dan memandang rendah orang lain yang berada di luar komunitas keshalehan kita. Mungkin tidak terungkapkan dengan kata-kata, tapi ia bersembunyi dalam gerakan-gerakan hati kita. Bahkan lebih parah lagi, obsesi keshalehan kita yang begitu tinggi membuat kita memandang orang lain “yang belum shaleh” sebagai makhluk-makhluk yang sudah tidak punya harapan lagi. Kita sering menjadi “buta” tiba-tiba hingga tidak lagi melihat ada celah buat mereka untuk kembali. Kita lupa, bahwa setiap orang sesungguhnya punya setitik kebaikan itu dalam dirinya…

* * *
Izinkanlah saya untuk mengutip kisah yang sungguh-sungguh menggugah saya tentang hal ini. Sebuah kisah yang benar-benar menampar kesombongan kita yang bersembunyi di balik keshalehan lahiriah kita. Kisah ini sendiri adalah kisah nyata seorang ulama Ahlussunnah, Syekh Ahmad bin Abdurrahman Ash-Shuwayyan, yang diungkapnya dalam buku berjudul Fi al-Bina’ al-Da’wy. Kisahnya sebagai berikut…

* * *
Hari itu saya kembali dari sebuah perjalanan yang panjang. Dan di pesawat, Allah menakdirkan saya untuk duduk di samping sekelompok pemuda yang nampaknya senang sekali berfoya-foya dan berhura-hura. Tawa mereka sangat keras. Dan kegaduhan mereka pun semakin lama semakin menjadi-jadi. Kabin pesawat pun dengan cepat menjadi ruangan yang dipenuhi asap rokok mereka. Dan tampaknya sudah menjadi hikmah Allah bahwa pesawat itu benar-benar penuh, hingga tidak memungkinkan bagi saya untuk mencari tempat duduk lain.
Saya berusaha keras untuk lari dari ‘kesempitan’ ini dengan tidur. Tapi, mustahil dan sangat mustahil saya bisa tidur dalam suasana seperti itu. Maka ketika kegaduhan itu semakin membuat kejengkelan saya memuncak, saya pun mengeluarkan mushaf al-Qur’an, lalu membacanya dengan suara yang rendah. Ternyata, tidak lama kemudian sebagian dari anak-anak muda itupun mulai tenang. Sementara sebagian yang lain mulai membaca surat kabar, dan adapula yang mulai tidur dengan lelap.
Namun, tiba-tiba, salah seorang dari mereka berbicara dengan suara keras –dan ia duduk tepat di samping saya!- : “Cukup!…Cukup!”
Saya menduga suara saya terlalu keras hingga mengganggunya. Saya meminta maaf padanya. Saya pun kembali melanjutkan bacaan saya dengan suara yang membisik hingga hanya saya sendirilah yang mendengarnya. Tapi saya lihat ia menutupi kepalanya dengan kedua tangannya. Duduknya gelisah. Tidak pernah diam dan terus bergerak. Hingga ia kemudian mengangkat kepalanya dan berkata dengan penuh emosi: “Tolong! Cukuplah sudah! Cukup! Saya sudah tidak bisa bersabar lagi!”
Ia kemudian berdiri dari tempat duduknya, lalu menghilang selama beberapa lama. Tidak lama kemudian ia kembali lagi, mengucapkan salam kepada saya sembari meminta maaf. Ia terdiam. Dan saya tidak tahu apa sebenarnya yang telah terjadi. Tapi sejenak kemudian ia menoleh pada saya, dan matanya basah oleh air mata. Ia berkata sambil berbisik: “Tiga tahun lamanya, bahkan lebih…Aku tak pernah meletakkan keningku di tanah…Aku tak pernah membaca satu ayat pun! Dan…satu bulan penuh ini aku habiskan dalam perjalanan ini…tidak satupun kemaksiatan yang tidak kukerjakan. Hingga aku pun melihatmu membaca al-Qur’an…Tiba-tiba saja dunia menjadi gelap di hadapanku…dadaku sesak…Aku merasa seperti tercekik. Iya, aku merasakan setiap ayat yang engkau baca menhantam tubuhku bagai cambuk..! Aku berkata pada diriku sendiri: Sampai kapan kelalaian ini?! Kemana aku akan berjalan di jalan ini?! Lalu apa setelah semua kelalaian dan kesenangan ini?! Hingga aku pun segera lari ke kamar kecil. Anda tahu kenapa?! Karena aku merasa sangat ingin menangis. Dan aku tidak menemukan tempat sembunyi dari pandangan orang lain selain di tempat itu!!”
Demikian ia berbicara padaku…Aku pun menyampaikan kalimat-kalimat seputar taubat dan kembali pada Allah…Dan ia pun terdiam.
Ketika pesawat mendarat di bumi, pemuda itu menghentikanku. Nampak sekali ia ingin menjauh dari teman-temannya. Ia bertanya padaku, dan wajahnya menampakkan air muka yang sangat serius: “Menurut Anda, apakah Allah masih berkenan menerima taubatku?”
Aku berkata padanya: “Jika engkau jujur dan sungguh-sungguh ingin kembali pada Allah, maka Allah akan mengampuni dosa apapun.”
“Tapi aku telah melakukan terlalu banyak dosa…dosa-dosa yang begitu besar…,” ujarnya.
“Apakah engkau pernah mendengar firman Allah: “Katakanlah: Wahai hamba-hambaKu yang telah melampaui batas atas diri mereka, janganlah kalian putus asa akan rahmat Allah, sesungguhnya Allah akan mengampuni semua dosa. Sesungguhnya Dia Mahapengampun lagi Mahapengasih.” (Az-Zumar:53)??” ujarku.
Kulihat wajahnya tersenyum penuh kebahagiaan. Kedua matanya berkaca dipenuhi air mata. Ia lalu mengucapkan selamat tinggal, dan pergi berlalu…
Maha suci Allah yang Mahaagung!

Begitulah manusia. Sejauh dan setinggi apapun kedurhakaan yang telah ia lalui dan daki, tapi selalu saja ada celah kebaikan dalam jiwanya. Andai saja kita dapat berusaha sampai ke sana, lalu menyianginya dengan cinta, ia akan tumbuh dengan izin Allah.

* * *
Membaca kisah ini, membuat kita harus melihat ulang rasa izzah akan keikhwanan dan keakhawatan kita. Karena saat izzah itu menjelma menjadi kesombongan, ia tidak lagi perlu dibanggakan. Kebanggaan semacam itu hanya membuat kita meremehkan manusia lain, yang boleh jadi saat hidayah Allah bersemayam di hatinya, ia akan menjejakkan kakinya di surga terlebih dulu dibanding kita. “Izzah” seperti itu hanya akan menyebabkan kita menjadi penghalang manusia untuk meraih hidayah Allah. Wallahul musta’an.

Pengakuan Kaum Pria tentang Wanita (Episode 5)

Jadi maksudQ bahwa:
pacaran itu indah...
hanya Bagi lelaki yang benar-benar ingin menikmati tubuh wanita tanpa ikatan sah.
kerena pacaran adalah jalan lapang yang indah untuk mencapainya.
Tak ada hambatan dan mulus tak berliku.
menghancurkan wanita dengan dalih cinta.
Parahnya wanita kadang tak sadar.
wasalam

Pengakuan Kaum Pria tentang Wanita (Episode 2)

Pada umumnya target menginginkan “keseriusan”. Ketidaktahuan mereka terhadap makna kata serius ini yang sering kami manfaatkan sebagai peluluh hati mereka. Trik yang kami gunakan bermacam-macam, mulai dari kirim sms yang bertuliskan “Aku serius lho sama kamu”, telepon diatas jam 23.00 (tarif murah) untuk bicara panjang lebar dengan topik yang dipilih secara random. Ini trik yang paling sederhana dan cukup jitu untuk target yang masih lugu atau pura-pura lugu soal keseriusan hubungan. Maksudnya walau target sudah mengerti tentang trik yang kami jalankan dalam meraih target, tapi seiring waktu dan semangat kami yang tidak berputus asa dalam menjalankan skenario, cepat lambat target yang dulunya pura-pura lugu akan luluh akhirnya melihat semangat tulus palsu kami.
Jika tujuan utama kami yaitu tubuh indah target belum didapatkan, maka bukti keseriusan palsu kami dapat dikuatkan dengan memboyong mereka ke orang tua kami atau sebaliknya, kami bersedia diboyong ke orang tua target. Sampai disini saja keberanian kami untuk bermain dengan kata serius, untungnya karena 99% target telah takluk pada level trik ini.
Kenyataan yang juga menggembirakan kami adalah apabila ternyata orang tua kami atau orang tua target juga memiliki paradigma “Pacaran adalah proses penjajakan” atau “Pacaran adalah proses yang harus dilalui oleh remaja normal”. Luar biasa!!!
Target yang telah beranggapan bahwa “inilah jodohku”, dengan paradigma ini kami telah mendapatkan kepercayaan penuh dari segala pihak untuk memperlakukan target semau kami. Termasuk menikmati kenyamanan sensasi seks penuh gratisan yang kami tunggu-tunggu selama perjuangan. Tidak perlu buru-buru, karena kami sangat dan sangat memperhatikan situasi, kondisi dan domisili. Soal dikemudian hari kami bosan dengan target yang sudah habis manisnya karena kami hisap atau muncul target baru yang lebih segar, maka skenario pelepasan diri dapat dijalankan dengan berbagai alasan. Sangat mudah melakukannya mengingat semua manusia memiliki kekurangan, kekurangan inilah yang harus diangkat ke permukaan dan menjadi pokok bahasan yang berlanjut dengan putusnya hubungan. Alasan ketidakcocokan bisa menjadi penangkal pertanyaan orang tua masing-masing pihak.
Putus. Juga merupakan jalan baru bagi kami untuk memulai skenario pengejaran target baru. Tampang berduka, bahkan tampang tegar paska putus pun bisa menjadi pesona di hadapan target baru ini. Tentunya kami tidak meninggalkan trik-trik peluluhan hati yang kami terapkan terhadap target-terget sebelumnya seperti sederhana, tampil apa adanya, bersahaja, sedikit ditambah bumbu humoris karena target pada umumnya ingin dekat dengan orang yang selalu bisa membuatnya tersenyum dalam setiap keadaan. Target selalu ingin merasakan aman, nyaman, disayang, diperhatikan (beberapa). Maka sedaya upaya kami akan ciptakan suasana tersebut hanya didekat kami.
Persepsi bahwa di dekat kami maka target merasa aman, nyaman, tenang, tersenyum, dan damai merupakan paradigma yang harus kami ciptakan di dalam kepala target.

5 Episode Pengakuan Kaum Pria tentang Wanita

Episode 1

Sekarang ini dengan sangat angkuhnya wanita sering berpendapat bahwa dirinya tidak akan mudah termakan rayuan gombal lelaki. Itu benar, karena dimasa sekarang ini tidak ada lelaki yang bibirnya bisa mengucapkan rayuan gombal seperti film-film Indonesia toempoe doeloe. Tetapi dengan pendidikan dan teknologi yang berkembang, metode kami (lelaki) berubah.
Kami bisa memanfaatkan semua SDM dan SDA yang ada di sekitar kami untuk menunjang tegaknya diagnosa “SERIUS” dihadapan target (wanita).
Apakah property “nebeng”? Oh tidak! Bahkan hanya dengan kesederhanaan, malah jadi pamungkas yang cukup jitu untuk meluluhkan hati wanita incaran kami. Karena dengan kesederhanaan dan property seadanya, akan mendatangkan kesan ketulusan dan bersahaja. Yang kemudian menimbulkan cinta sepenuh hati, berakibat kepasrahan. Ini fokusnya, kepasrahan yang artinya diriku sepenuhnya kuserahkan padamu, termasuk my virgin (klo masih).
Wahai wanita, tidak semua diantara kami kaum lelaki mengincar hartamu, yang merupakan incaran kami sebenarnya adalah tubuhmu (maaf terlalu jujur). Sejauh mana dirimu memberikan rasa penasaran kepada kami, selama itu pula kami sanggup bersandiwara dengan sekuat tenaga kami. Mengapa kami sebut sandiwara? Karena kami menyimpulkan bahwa yang telah beristeri saja masih banyak yang selingkuh (meski tidak semuanya). Pernikahan yang kejelasan statusnya dilindungi oleh hukum agama dan UU Negara, masih sering kami injak-injak. Apalagi status pacaran? Yang sama sekali tidak dikuatkan oleh peraturan manapun. Artinya seorang cowok bisa saja berpacaran dengan seribu cewek dalam waktu bersamaan atau sebaliknya. Maka jadilah pemuda-pemudi bangsa ini sebagai pakar zina, dari yang kecil sampai yang besar.
Tapi masalah jadi bangsa apa bukan urusan kami, selagi kami masih bisa menikmati kenikmatan dunia lewat tubuh wanita secara free, maka paradigma “Pacaran sebagai proses penjajakan” akan selalu kami sebarkan dengan cara apapun.
Sex dengan pacar sendiri sangat berbeda rasanya dengan sex dengan pelacur manapun dengan harga pakai berapapun. Sebab wanita yang selalu jadi target kami tentunya bersih, sehat, bebas penyakit menular seks (PMS), terawat dan terdidik.
Soal kaya atau miskin si target itu bisa disesuaikan. Maksudnya apabila kami telah sukses memperdaya hati target, maka keadaan keuangan akan sangat mudah dikendalikan berdasarkan scenario “rasa pengertian” yang kami ciptakan di hati target. Pulsa yang kami keluarkan untuk menjalin kedekatan tidak sebanding dengan kenikmatan yang menanti kami.
Target berjilbab? Bisa sukses bisa juga tidak. Usaha kami dalam berburu “kenikmatan” terhadap target berjilbab memerlukan beberapa trik tambahan. Tetap bersikap sederhana, apa adanya, bersahaja, pengakuan terhadap kekurangan diri, bersikap humoris dan sedikit bumbu religi yang didapat dari ceramah ustadz-ustadz di televisi bisa jadi referensi tambahan.
Usaha kami sukses terhadap target yang berjilbab yang juga masih berpakaian ketat, sehingga jilbab kadang-kadang hanya menutupi rambutnya dan tidak menutupi ukuran “hardware” indahnya. Kulit target yang halus mulus karena sering tertutup dari polusi udara dan matahari memberikan sensasi yang tidak sama dengan target tidak berjilbab pada umumnya. Luar biasa!!!
Usaha kami gagal apabila target berjilbab tapi juga berpakaian yang lebar, sehingga tidak tampak keindahannya lewat mata secara fisik, tapi kami sangat yakin dibalik pakaian yang lebar itu tersimpan lebih banyak keindahan. Kami tak tahu pasti penyebab kegagalan usaha kami terhadap target tersebut, bisa jadi keteguhan target dalam memegang keyakinan bahwa keindahan yang mereka miliki merupakan “harta berharga” yang hanya akan disuguhkan kepada suami mereka nantinya.
Kenyataan yang menggembirakan adalah target “kokoh” semacam ini berjumlah sangat sedikit jika dibandingkan dengan total target “empuk” yang banyak tersedia di sekitar kami.(To be continue)

JASAD ARIEL SHARON (BEKAS PERDANA MENTERI ISRAEL) TAK DITERIMA BUMI

Kenapa kita perlu benci terhadap Sharon laknatullah?
1. Bayangkan sharon mengambil seorang bayi daripada ibunya dan dilempar bayi itu ke dinding.
2. Bayangkan seorang gadis berusia 10 tahun yang dirogol dengan kejam dan akhirnya matanya telah diambil.
3. Bayangkan sekumpulan keluarga, disuruh beratur depan rumah, dan ditembak.
4. Bayangkan wanita hamil, dirogol, dengan kaki terbuka luas, dan akhirnya perut wanita dihiris, meninggalkan perempuan ini ke dalam kematian berdarah bersama kandungannya.
Dan semua mangsa itu adalah umat Islam Palestin yg ditindas Ariel Sharon.
Lihatlah betapa zalimnya yahudi syaitoon...!!
( Sumber: Mencari Keredhaan Illahi)
---Salam Santun Ukhuwah Karena-NYA---

KISAH PEMUDA YG BERTAKWA

Seorang pemuda yang dulunya pernah studi di benua Eropa bercerita bahwa ketika dia masih di sana, ada seorang laki-laki 'Bule' masuk Islam. Setelah masuk Islam, kondisinya berubah, dia benar-benar serius dan antusias sekali menjalankan syari'at Islam secara kaffah (menyeluruh). Bahkan dia dengan bangga menampakkan keislamannya dan membangga-banggakannya di hadapan orang-orang kafir tanpa malu atau ragu-ragu sedikitpun, sekalipun tanpa momen. Yang jelas, dia selalu antusias untuk itu.

KISAH MAHASISWA YANG MENGINGKARI ADANYA ALLAH


Kisah ini terjadi di Universitas 'Ain Syams, fakultas pertanian di Mesir. Sebuah kisah yang amat masyhur dan diberitakan oleh berbagai media massa setempat dan sudah menjadi buah bibir orang-orang di sana.
Pada tahun 50-an masehi, di sebuah halaman salah satu fakultas di negara Arab (Mesir-red.,), berdiri seorang mahasiswa sembari memegang jamnya dan membelalakkan mata ke arahnya, lalu berteriak lantang, "Jika memang Allah ada, maka silahkan Dia mencabut nyawa saya satu jam dari sekarang!."

SEORANG NENEK MENCURI SINGKONG KARNA KELAPARAN, HAKIM MENANGIS SAAT MENJATUHKAN FONIS !!

Di ruang sidang pengadilan, hakim Marzuki duduk tercenung menyimak tuntutan jaksa PU thdp seorg nenek yg dituduh mencuri singkong, nenek itu berdalih bahwa hidupnya miskin, anak lelakinya sakit, cucunya lapar,.... namun manajer PT A**** K**** (B**** grup) tetap pada tuntutannya, agar menjd contoh bg warga lainnya.

Mana Peranmu??

Oleh: Karimatunnisa
Menjadikan kalimat tauhid tegak setegak-tegaknya dimuka bumi ini, syari’at sebagai satu-satunya kiblat, Islam sebagai satu-satunya dien, dan Allah sebagai satu-satunya Rabb, merupakan cita-cita tertinggi seorang mujahid. Ketika tujuan ini telah menjadi visi hidup dan telah mendarah daging dalam sanubari pejuangnya, ia akan menjadikan semaksimal mungkin dirinya untuk menggapai cita-cita tersebut.

MENGAPA KITA MENGELUH???

Sadar atau tidak, diri kita terkadang begitu mudah mengeluhkan sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan dan rencana kita. Tatkala hujan datang misalnya, buru-buru lisan kita mengomel, “Duh…hujan, mana cucianku banyak lagi. Bisa-bisa nggak kering nanti.” Atau tatkala terik mentari begitu kuat menyengat, “Aduh…panasnya hari ini.” Ataukah mengeluh atas musibah yang kita alami, dan masih banyak keluhan kita yang lain.