PICTURE

PICTURE

Mana Peranmu??

Oleh: Karimatunnisa
Menjadikan kalimat tauhid tegak setegak-tegaknya dimuka bumi ini, syari’at sebagai satu-satunya kiblat, Islam sebagai satu-satunya dien, dan Allah sebagai satu-satunya Rabb, merupakan cita-cita tertinggi seorang mujahid. Ketika tujuan ini telah menjadi visi hidup dan telah mendarah daging dalam sanubari pejuangnya, ia akan menjadikan semaksimal mungkin dirinya untuk menggapai cita-cita tersebut.
Hari ini, cita-cita tersebut memang masih sangat jauh. Kemaksiatan semakin hari merajalela, seolah segala lini kehidupan menjadi wasilahnya. Manusia-manusia semakin menelorkan sifat wahn, hingga berlomba-lomba untuk mengumpulkan harta dunia, dan melupakan akhiratnya, seakan-akan hidupnya untuk selamanya. Tak pernah mempersiapkan bekal untuk kehidupan yang lebih kekal. Allah, tidak menjadi satu-satunya Rabb, meski disetiap shalatnya ia selalu melafadzkan bahwa Allah satu-satunya dzat yang pantas diibadahi.
Namun, Allah telah menjanjikan kemenangan bagi Islam. Suatu saat agama ini pasti menang, suatu saat agama ini akan ditampakkan diatas segala agama. Sebagaimana yang dikabarkan dalam surah Ash-Shaff: 9.
“Dialah yang mengutus seorang rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama, meskipun orang-orang musyrik benci.”
Sebagai hamba yang merindukan kemenangan itu, tentu kita ingin mengambil peran didalamnya. Tak inginkah kita menjadi salah satu dari beribu batu bata penyusun bangunan kokoh kemenangan Islam ini? Jika suatu ketika, kemenangan itu datang, dan diri kita ternyata menjadi salah seorang pejuang kemenangan itu. Bukan untuk berbangga diri, tapi kita ingin turut mengambil bagian dalam perjuangan mulia ini, karena kita yakin akan janji Allah bagi orang-orang yang mencari keridhoan Allah.
“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari adzab yang pedih? Yaitu kamu beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui.” (Ash Shaff: 10-11)
Menjadi seorang pejuang dakwah, tidaklah cukup dengan sekedar niat dan kerja yang “ala kadarnya”. Dibutuhkan azzam yang kuat serta keberanian untuk menghadapi segala tribulasi dakwah, baik dari dalam diri maupun di lingkungan kita, begitu pun rela bersakit-sakit untuk menerima segala konsekuensinya. Begitulah perjuangan, butuh pengorbanan tak terkira, namun ketahuilah bahwa balasannya juga tak terkira.
Syabaab, mana semangatmu? Hari ini kita hanyalah melanjutkan perjuangan dakwah Rasulullah. Hari ini perjuangan kita tak sehebat dulu, pengorbanan kita masih terlalu kecil jika dibandingkan dengan pengorbanan Rasulullah dan sahabatnya dalam menegakkan kalimat Allah. Hari ini, kita baru berpeluh keringat, mengorbankan sedikit waktu , sisa dari seabrek aktivitas kita. Bandingkan dengan pengorbanan para salafush shaleh, yang berjuang bertarung nyawa, berpeluh darah, penuh konspirasi, hingga mereka kadang hanya bisa memakan daun-daunan demi untuk mempertahankan keislamannya.
Ingatkah kita dengan ujian yang dialami Mush’ab bin Umair? Sebelumnya hidup berkelimpahan harta, namun ketika beliau mengikrarkan syahadat, beliau diusir dari rumah dan tidak diberi makan, hingga kulitnya mengelupas seperti ular yang berganti kulit, saking keras siksa yang dihadapinya. Ingatkah kita dengan perjuangan Ammar bin Yasir Radhiyallahu Anhu, budak Bani Makhzum yang masuk Islam bersama bapak dan ibunya, lalu orang-orang musyrik menyeret mereka ke tengah padang pasir yang panas membara lalu menyiksa mereka. Ingatkah  kita dengan kerasnya siksaan yang Rasulullah terima tatkala berada di Tha’if? Teriakan, cercaan hingga lemparan batu menjadi bunga-bunga perjuangan beliau demi menyebarkan Islam dan menyampaikan risalah Allah yang abadi.
“Dan di antara manusia ada yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhoan Allah, dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 207)
Lantas bagaimana dengan kita? Sudah sejauhmana perjuangan kita?  Harusnya, kita malu pada Zaid bin Tsabit. Ketika kota Madinah sedang bersiap untuk menghadapi perang Badar dan Rasulullah memeriksa pasukan yang akan menyertai beliau berjihad fie sabilillah dan mengokohkan Kalimah-Nya di muka bumi, beliau datang sambil berucap, “Aku siap berkorban untuk diri Anda, ya Rasulullah. Izinkan aku ikut berjihad di bawah komando Anda.” Sampai-sampai Rasulullah begitu kagum. Zaid yang masih berusia 13 tahun dan belum bisa untuk diikutikan berperang, pulang sambil menyeret pedangnya. Wajahnya murung karena tak mendapat kehormatan menyertai Rasulullah dalam perangnya yang pertama. Subhanallah.
Saudariku…
Bangkitlah… Berjuanglah… Hingga dien ini tegak. Entah itu kita akan merasakan langsung hasilnya, ataupun anak cucuk kita nanti yang akan merasakannya. Istiqomahlah diatas perjuangan ini. Sungguh kemuliaan menanti orang-orang yang mencari keridhoan Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TULIS KOMENTAR DAN PERTANYAAN ANDA DI SINI...